Cari Blog Ini
Jumat, 29 Mei 2015
Rabu, 08 April 2015
Beasiswa
08/04/2015
Hari
ini assa menelepon lagi. Dia langsung bertanya apakah mau pergi keluar atau
tidak, karena seringkali setiap dia menelepon adalah saat dimana aku hendak
pergi. Jadi dibenaknya aku terlalu sering jalan-jalan di kota ini. Tidak seperti
biasanya pembicaraan kami berlangsung singkat kali ini. Mungkin karena
kata-kataku menyingung perasaannya. Semua tentang biaya, saat aku bertanya
apakah dia masih tinggal di kosannya yang dulu. Kemudian dia bertanya biaya
kosanku disini berapa. Untuk membandingkan pengeluaran orangtua katanya. Aku menjawab
tidak jauh beda dengannya. Dia juga menanyakan perihal uang bulanan yang
dikirim. Dia mengeluh karena dia masih sering meminta lagi saat dia kekurangan.
Mending minta sama orangtua daripada orang lain, itu lebih baik jawabku.
Hingga
berlanjut pada sesi aku menyakiti hatinya. Ini tentang beasiswa. Bukannya aku
tak menginginkan beasiswa, bukannya aku tak ingin membuat orangtuaku bangga, karena
anaknya mendapatkan beasiswa. Tetapi aku berpikir aku belum membutuhkannya,
masih banyak mahasiswa yang benar-benar membutuhkannya. Walaupun aku mendapat
kabar dari seorang teman sekelasku bahwa terlalu banyak dana beasiswa yang
belum tersalurkan. Jadi sayang kalau gak diambil, entar dikorupsikan, katanya
lagi. Ini sedikit menggodaku untuk mengajukan beasiswa. Tapi aku berpikir lagi,
apapun yang mereka lakukan terserah mereka. Aku tak mau menjadikan keburukan
seseorang menjadi alasan untuk memakan yang bukan hak-ku. Ya,,,, aku merasa
beasiswa itu bukan hak-ku. Aku masih mensyukuri keadaan orangtuaku, meskipun
tak seberapa setidaknya aku masih merasa cukup dan tetap bersyukur dengan
keadaanku saat ini.
Saat dia bertanya apakah aku mendapatkan beasiswa. Aku menjawab
aku gak butuh sambil bercanda. Dia bilang aku kurang ajar dan sombong. Aku tertawa
lagi, aku tahu dia mendapatkan beasiswa, kemudian aku bertanya jadi beasiswamu
buat apa kalau kau masih minta uang ke orangtuamu. Dia mungkin tersinggung,
kurang ajar katanya dan tak tahu harus berkata apa lagi. Aku bertanya lagi
biasanya uangnya diapain. Buat beli buku atau kekurangan-kekurangan lain
jawabnya. Aku tahu mereka keluarga yang cukup mampu, kedua orangtuanya PNS dan
mereka hanya tiga bersaudara dan dia anak pertama. Dia mengatakan bahwa itu
beasiswa bukan untuk orang yang tak mampu tapi beasiswa PPA (Penunjang Prestasi
Akademik). Aku tahu, siapa juga orangtua yang tak senang anaknya mendapatkan
beasiswa. Ini pilihanku, bukan karena aku sombong atau apa. Hanya saja aku
belum berhak untuk menerimanya. Diakhir pembicaraan, dia bilang kurang ajar
lagi, aku hanya tertawa seperti halnya dia. Tapi aku tahu dia sakit hati, dan
cepat-cepat ingin menutup pembicaraan ini.
Maaf ya Assa, aku gak bermaksud :(
Senin, 06 April 2015
Dibalik Perjalanannya
6 April 15
Maha Besar
Allah yang tidak akan membiarkan hambanya untuk menyerah dalam putus asa.
Hari ini kita diberitahukan kabar duka
atas berpulangnya seorang saudara yang terkenal sangat baik. Aku mengajak Rahma
untuk pergi melayat, walaupun kita gak tahu alamat duka dimana tepatnya. Berbekal
dasar bahwa melayat merupakan salah satu kewjiban muslim atas saudaranya kita
pun berangkat. Bukannya kita tak menghubungi teman lainnya,tapi tak dibalas. Naik
angkot dua kali cukup membuatku mual dan pusing. Kita gak tahu harus turun
dimana, tapi langsung bilang ke sopir angkotnya buat nurunin kita di perumahan
blabla. Sampai di gerbang
perumahan kita terus jalan sambil bertanya pada anak sekolah yang kebetulan
lewat. Kita gak naik angkot karena kita kirain gak bakalan jauh masuk kedalam. Jalan
pesantren ya teh, belok kiri terus lurus belok kanan terus belok kiri lurus
mentok belok kiri lagi. Hah ... walaupun gak nyerap semua kita tetap berterima
kasih sambil tersenyum. Setelah belok kiri yang pertama kita melihat ibu-ibu
pakai baju muslimah gitu. Kita pikir bakalan pergi melayat. Ternyat tidak. Aku sms
teman yang lain lagi. Katanya lagi di jalan, tanyain aja sama orang. Oke kita
nanya, pas nyampe di jalan pesantren kita senang sekaligus heran, kok sepi ?? .
Hmm .. kata teman yang tadi almarhum udah dibawa ke pemakaman. Oh yauda gapapa,
kita ke rumah duka aja, ajakku. Tiba
pada alamat yang diumumkan tadi. Kita hanya melihat kesepian dan pintu yang
tertutup rapat. Kita berniat untuk kembali dan pulang saja. Kemudian saat balik lagi kita coba bertanya pada seorang
bapak, kira-kira umur nya 50 tahunan.
“Aduh neng kalau itu mah bukan di jalan
pesantren tapi di terusan pesantren”. Ohh lewat mana pak ?. “Jauh neng naik ojeg
aja, neng dari mana?. Setelah kita menjawab alamat kita. “Wah jauh ya, yaudah
bapak antar aja” tawarnya. Sebelum kita sempat menjawab lagi, dia sudah masuk
dan menyalakan mobilnya. Kita tak mungkin untuk menolak lagi. Dengan ragu-ragu
akhirnya kita masuk ke mobil yang pintunya dibukain. Bismilahirrahmanirrahim. Memang
jarak dari jalan pesantren ke alamat duka cukup jauh. Terima Tuhan engkau telah
mengirimkan salah satu malaikat berwujud manusia-Mu kepada kami. Setelah sampai
ke alamat duka dan berterimakasih banyak kepada beliau. Semoga Allah melapang
segala jalannya, rizkinya, dan memberinya kebahagiaan.
Kita masuk dan bertemu dengan banyak
orang-orang sedaerah. Rasa lelah dan hampir putus asa yang tadinya sempat
hinggap, kini melayang seakan tak pernah singgah. Rindu kampung halaman seakan
terobati. Kabarnya almarhum tadi pagi masih jadi imam shalat subuh dengan ayat
yang cukup panjang, masih pergi ke kantor, kemudian pusing, muntah dan dibawa
ke rumah sakit, karena penanganan yang cukup lambat, sebelum beliau disentuh
oleh tangan dokter beliau pun pergi dengan tenang.
Waktu pulangnya
kita diajak barengan, kita menolak takut gak muat. Tetap aja dipaksa, ehh
ternyata muat. Katanya kalau kita gak naik, ntar bakalan ada kabar kalau kita
dah lepas karena jalan terlalu jauh. Haha,,, yaudah kita jadi naik J .
Aku melihat
senyuman itu tanpa beban yang berarti, Potret yang duduk disamping sang istri
dan dikelilingi anak-anaknya. Semoga beliau diterima di tempat terindah disisi-Nya.
Innalillahi wa Innailaihi Raajiuun.
Kamis, 19 Februari 2015
Dia Bilang Kita Berbeda
Dia bilang
kita berbeda, tak akan pernah mungkin untuk bersatu. Dia bilang kita berbeda,
tak akan pernah seirama. Dia bilang kita berbeda, tak akan pernah sejalan.
Berbeda berarti segala ragam yang tidak sesuai dengan standar kesamaan.
Andaikan standar itu tidak ada, apakah akan ada kata berbeda, standar yang
memisahkan yang membuat tahta dan kedudukan yang berderajat. Jika tidak ada
kata berbeda, maka apakah akan ada kata sama. Terlalu dangkal jika menjadikan
perbedaan menjadi sebuah halangan, tidakkah engkau tau lembah perbedaan akan
lebih indah daripada puncak kesamaan yang membuatmu memandang rendah sesuatu
yang tidak sama denganmu, hingga engkau tidak menyadari betapa bahayanya berada
di atasnya, maka resiko untuk jatuh itu lebih tinggi. Terciptanya persaingan
yang mengasingkan dan menjatuhkan akan menetapkan engkau akhirnya berbeda juga.
Maka apakah engkau tetap berpikir bahwa berbeda itu tak mungkin bersatu, tak
akan pernah seirama, tak akan pernah sejalan. Bukankah air dan minyak akan
bersatu dengan penambahan emulsifier, bukankah setiap dentingan musik akan
menciptakan nada-nada yang menyatu menjadi sebuah irama, bukankah banyak jalan
yang dapat dilewati untuk satu tujuan. Aku tak peduli kita sama atau berbeda,
yang aku peduli aku hanya ingin bersama seirama untuk selalu berdampingan
denganmu. :)
Senin, 08 September 2014
They said go green, but.....
“Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”
Kutipan tersebut merupakan salah satu ayat yang terdapat dalam pasal 33 UUD 1945 dan merupakan salah satu dari sekian banyak UU yang telah ditetapkan untuk mengelola kekayaan Indonesia. Ayat tersebut memperlihatkan kepada kita bahwa Indonesia merupakan negara yang benar-benar kaya atau bahkan sangat kaya hingga pemerintahannya harus menetapkan suatu perundang-undangan untuk mengatur setiap jejak kekayaanya. Undang-undang ini juga memberitahukan bahwa kita sebagai masyarakat Indonesia benar memiliki hak akan setiap kekayaan untuk kemakmuran kita. Kemakmuran dalam batasan-batasan yang jarang diindahkan bangsa bahkan pemerintahannya sendiri.
Memang dengan seiring perputaran waktu yang menjadikan penduduk Indonesia juga seperti bola salju yang semakin berputar maka akan semakin besar. Peningkatan jumlah penduduk yang semakin tak terkendali, meskipun berbagai regulasi telah ditetapkan untuk menjadikan jumlah yang ideal bagi negara Indonesia. Sebenarnya kepadatan penduduk tidak akan ada dalam kamus kita jika diantara 13.667 buah pulau tidak hanya kurang lebih 3000 pulau yang kita tempati. Haruskah kita berdesak-desakan dalam beberapa pulau yang semakin terasa sempit, dimana kita beranggapan kita yang paling berhak untuk mendudukinya. Terus mengeksploitasi segala kekayaannya dengan dalih untuk kemakmuran bangsa, berpikir untuk memperbaiki dan mengganti segala kerusakannya tanpa pernah bertindak sesuai dengan pikiran tersebut. Bersikap apatis atau bahkan hanya mengikuti euforia gerakan go green yang hanya sebagai pencitraan tanpa pernah benar-benar rela masuk di dalamnya.
Bukankah alam telah memberikan hasil optimal dari apa yang dia miliki, jadi mengapa kita tak jua melakukan usaha optimal untuk membalas kebaikannya. Apakah manusia benar-benar tak tahu lagi caranya membalas budi ataukah segala kemakmuran tersebut telah menutup segala inderanya ?. bukan hanya sekali kerusakan yang dialami alam Indonesia, bukan hanya satu wilayah yang merasakan sakitnya. Tetapi hampir disetiap jejak pengeksploitasian alam merasa habis manis sepah dibuang. Apakah salah jika kita melakukan suatu perbaikan yang akan mengeluarkan biaya dari sedikit persenan dari keindahan yang kita sedot. Apakah salah jika alam meminta hak dari kewajiban yang telah ia penuhi. Apakah karena alam tak memiliki mulut sehingga ia tidak akan berbicara. Apakah karena alam tak memiliki mata sehingga ia tidak akan menangis. Apakah karena alam tak memiliki kaki sehingga dia tidak akan berlari mengadu.
Senin, 18 Agustus 2014
Akhirnya aku merasakannya
Akhirnya aku merasakannya
Aku merasa aneh saat dia menatapku seakan ingin menelanku mentah-mentah dengan tatapan matanya yang menusuk hatiku. Sering aku menganngap mereka hanya membuang-buang waktunya untuk membenciku, hanya karena sebuah alasan yang tak masuk akal “PRIA”. Ya kata ini sering membuat masalah di hidupku, terutama posisiku di mata para teman-teman wanita ku. Memang aku tak menyalahkan jika pria menyukaiku atau sekedar ingin dekat denganku, kalau masih dalam batas yang wajar aku santai saja. Tetapi siapa yang bakalan tegar kalau berteman dengan pria tersebut engkau akan dibenci temanmu sendiri. Tatapan sinis, gunjingan bahkan cacian ia alamatkan kepadamu. Seolah engkau adalah wanita penggoda yang haus akan kasih sayang lelaki, huft rasanya itu.... Arggghhhh. Serba salah.
Lebih parahnya lagi saat engkau telah mencoba membicarakan masalah ini dengan teman pria mu tersebut dan berharap dia akan segera menjauhimu. Dia malah berkata terserah dia, aku juga punya hati, dan bukan untuk dia gimana mau dipaksain. Huft mati kutu. Aku hanya bisa mencoba menjauh,,,jauhh,,dan jauhh.
Aku lebih tega melihat lelaki menangis daripada harus melihat wanita sakit hati. Seandainya wanita itu tau aku tak butuh lelaki, mungkin dia akan tersenyum. Tapi kurasa dia tak akan tau karena kebencian itu telah menutup matanya untuk melihatku.
Akhirnya aku merasakannya
Rasa yang cukup dalam yang tanpa sengaja tertanam dan tumbuh subur menggerogoti setiap aliran darah dan detak jantungku. Entah mengapa dia dengan sombongnya berani menyeruak masuk ke dalam hatiku yang telah lama ku kunci rapat. Ya itu dia, tetapi bukan dirinya. Huft,,, aku benar-benar tak mengerti. Bagaimana aku bisa mengerti, jika hanya rasanya yang bisa aku rasakan, namun sangat bertolak belakang dengan dirinya yang seolah menjauh memandangku muak. Bagaimana aku bisa mengerti, jika hanya rasanya yang membekukanku, namun dirinya terus membakarku. Sering ku coba untuk berhenti, namun mengapa detak jantungku terus memburu hanya dengan mendengar namanya atau hanya mentapnya. Karena kata-katanya bagaikan berlian yang tak ternilai untuk bisa sampai ke telingaku. Hampir tak pernah ada.
Akhirnya aku merasakannya
Ya akhirnya merasakan betapa pedih dan bencinya melihat ada bintang lain menuju mataharimu. Aku merasakan hal yang dulu yang pernah kuanggap suatu hal yang membuang waktu. Sakit itu ada saat mereka terlihat dekat. Perih itu ada saat mereka tertawa dan bercanda bersama. Benci itu ada saat aku berpikir mengapa harus dia. Marah itu ada saat dia tak memperlakukanku sepertinya. Hingga merasa bodoh dengan diri sendiri yang lemah akan pikiran sendiri. Bukankah aku telah menjadi orang yang ku anggap aneh dulu ? Ya,,, cemburu ini membuatku membenci diriku.
Minggu, 20 Juli 2014
Jangan buatku memilih
::Saat suatu harapan muncul dengan dengan segala keindahannya, merayumu memperlihatkan segala sesuatu yang pernah kau impikan. Namun dengan segera kau lupakan karena hal tersebut meupakan mimpi indah yang hanya menerangi tidurmu bukan meniti jalan nyatamu. Kau telah menguburnya dalam dan menutup segala kemungkinan agar harapan itu tak muncul kembali. Berharap tak seorangpun mengetahui apa yang pernah kau rasakan. Karena kau mengetahui bahwa tak hanya dirimu yang memimpikannya tetapi juga teman dekatmu.
::Mencoba mengalah demi sebuah persahabatan bukanlah hal yang terlalu istimewa. Tetapi disaat mimpi itu tanpa kau duga menghampirimu tanpa pernah kau minta, apakah yang akan kau lakukan. Apakah harus ikut terbuai di dalamnya atau cukup terbangun untuk menghilangkannya. Tak melukai hati orang lain dengan menjaga hatimu untuk tidak tenggelam dalam indahnya mimpi itu. Cukup alasanku untuk menghindari dan menjaga hatiku demi hati sahabatku. Aku tak ingin disebut pengkhianat hanya untuk seorang lelaki.
Langganan:
Komentar (Atom)



